Jumat, Juni 10, 2011

Untuk Kawan-Kawan ASGAR MUDA SUPER CAMP 2011



Kalian sedang menunggu-nunggu dengan debaran cemas, sebuah hari di tanggal 30 Juni. Aku tahu itu. Di malam sebelumnya, kalian akan mendadak gelisah tak bisa tidur, menunggu pagi. Mungkin semalaman, hanya bolak balik mematut, menunggui sebuah alamat situs internet, seperti jin yang menunggui pohon beringin. Tukang koran akan jadi orang yang paling kalian rindukan dan nantikan, saat pagi tiba. Melebihi para Belibers yang kemarin-kemarin menanti-nanti sang Justin Beiber. Meski seumur hidup tak pernah sekalipun menyentuh koran, tapi percaya lah, pagi itu kalian akan menyentuh nya.



Pagi itu, cerah atau tidak nya cuaca, tak lagi ditentukan oleh sinar matahari. Cuaca mendadak bergantung pada wajah-wajah kalian. Semburat senyum berarti pertanda baik, dan kening yang mendung bisa jadi pertanda kurang baik. Namun hujan akan tetap ada. Entah rintik-rintik atau deras. Bukan dari langit, tapi dari beribu-ribu pasang mata yang nomor ujian di kartu nya berjodoh ataupun tak berjodoh dengan nomor yang tertera di koran.



Ya, pagi itu akan dirasakan sebagian orang sebagai hari penentuan nasib. Nasib lulus dan tak lulus. Nasib "selamat datang mahasiswa di kampus impian" atau nasib "jangan menyerah, coba lagi tahun depan".



Untuk kawan-kawan AMSC 2011, tolong antisipasi hal-hal yang akan terjadi setelah nya. Kuharap tak terjadi pada kalian. Tapi biasanya selalu saja ada yang mengalami. Sebelum hari penentuan itu, kalian adalah para pejuang yang bersama-sama saling membahu, memberi semangat, berbagi impian. Namun setelah kepastian ada, tiba-tiba tanpa tahu siapa yang memulai, dengan otomatis yang lulus berkubu dengan yang lulus, yang tak lulus berkubu dengan yang tak lulus. Karena akan sulit berbagi kebahagiaan dengan orang yang sedang bersedih. Pun yang bersedih, tak ingin mengganggu kebahagiaan orang lain. Kualitas persahabatan, akan teruji saat itu.



Tapi aku tahu, kalian adalah orang-orang yang berbeda. Biarpun tak ku kawal sejak mula sampai akhir, tapi aku yakin, kalian memang anak-anak muda pilihan yang istimewa. Bagaimana tidak, ketika kawan-kawan sebaya hanya sibuk memikirkan cara menjawab ratusan contoh soal, kalian telah selangkah lebih jauh.



Saat Garut bagian selatan tertimpa bencana, tak kusangka kalian akan meletakan sejenak kepentingan pribadi, untuk bergerak bersama membantu pribadi-pribadi lain di belahan Garut sana. Ya, kalian telah berusaha menjawab persoalan hidup yang lebih real dari sekedar contoh-contoh soal di modul. Hal serupa belum tentu dapat ku lakukan, ketika aku masih seusia kalian. Sungguh, aku sangat menaruh hormat pada kawan-kawan AMSC 2011.



Aku tahu, perlahan-lahan nanti, pesona kampus akan menyibukkan kalian. Entah itu organisasi kemahasiswaannya, aliran-aliran pemikirannya, pemuda-pemudinya, ilmu pengetahuannya, paper-papernya, gaya hidupnya dan entah pesona apa lagi yang akan kalian temui.



Banyak di antara kalian yang kusaksikan memiliki cita-cita yang tinggi untuk membangun Garut (ku intip dari catatan-catatan kalian semasa training). Kemudian menjadikan kuliah sebagai salah satu jalan untuk mewujudkannya. Tolong bertahanlah dengan cita-cita itu. Karena sepengalamanku, akan banyak persoalan hidup yang meciutkan tujuan kuliahmu menjadi hanya untuk mencari kerja. Tak ada yang salah dengan mencari kerja, tetapi jangan "hanya". Kalau bisa, ingin sekali ku tato kening-kening kalian dengan tulisan ASGAR MUDA. Biar tak lupa. Biar selalu terbayang cita-cita semula, di pagi hari ketika sedang mematut diri di kaca.



Ketika nanti kalian sudah menyebar ke mana-mana, ke berbagai kota besar di luar sana, mohon jangan lupakan jalan pulang. Karena di sebuah titik, ada ASGAR MUDA yang dengan setia menanti kedatangan kawan-kawan AMSC 2011, yang akan secepatnya kembali bersama-sama berkarya nyata untuk membangun Garut yang sumpah mati sangat kita cinta.

Rabu, Juni 08, 2011

Pemaaf dan Peminta Maaf




Pemaaf dan Peminta Maaf
Aku pernah berada di posisi kedua nya. Ketika suatu waktu aku berada di posisi seorang yang di mintai permintaan maafnya, aku akan merasa agak kesal jika sang peminta maaf terlalu banyak beralasan. Meminta maaf adalah menerima dan mengakui bahwa kau salah. Tak usahlah berpanjang-panjang dengan alasan yang melatarbelakanginya. Karena, ketika kau semakin memperpanjang alasan, maka permintaan maaf mu serasa tak tulus lagi. Serasa masih ada ego tersisa bahwa kau tidak ingin di salahkan. Bahwa kau sebenarnya tidak merasa bersalah. Lebih jauhnya, sang pemaaf akan berpikir oh, jadi lu pikir lu gak salah ya, jadi gua gitu yang salah? Hah?!

Tapi ketika ada peminta maaf yang tak banyak beralasan pun, akan terasa ketidakpuasan. Biasa nya akan dikejar alasan-alasannya dengan pertanyaan, kenapa lu gitu ama gua? Lu gak mikir ya? Gimana rasanya klo gua yang ngelakuin ini ke elu!Gampang banget ya, lu minta maaf! Lu pasti nganggap ini sepele. Padahal ini penting buat gua!

Begitulah, ketika perasaan sang pemaaf sudah tersayat. Apalagi ketika itu di lakukan oleh orang yang dekat. Rasanya lebih perih berkali lipat. Sebenarnya dia sendiri sedang berusaha mencari obat. Karena rasa sakit yang menghebat ketika berkelebat dalam benak, kenapa dia orang yang paling bla..bla..bla..tega sama gua.. Rasanya ingin segala itu tak pernah terjadi. Agar tak perlu merasa luka seperti saat ini.

Pantas saja dikatakan, memaafkan adalah pekerjaan paling sulit. Orang yang dapat melakukannya bahkan disebut mulia. Ya, karena pada dasarnya kita sedang bertarung dengan diri sendiri. Ada satu sisi ingin memaafkan dengan tulus. Tapi ada sisi lain yang menariknya kembali. Sisi yang terkadang berkata gak akan gua maafin sampai lo merasakan apa yang gua rasakan.

Ada dua versi rasa ketika member maaf. Pertama, setelah berjumpalitan berusaha berdamai dengan hati, hati mulai mereda, mulai bisa menerima, mulai dapat melupakan, maka terucap “ya, aku memaafkanmu”. Versi kedua adalah ketika kata “ya,aku memaafkanmu”, adalah saat sebenarnya kita baru memulai untuk mendamaikan hati. Baru terlintas untuk melupakan. Maka biasanya, ketika versi pertama terjadi, keadaan akan bisa lebih cepat kembali seperti biasa. Bahkan sedetik setelah kata memaafkan itu terucap. Karena sebelumnya kita telah berhasil memenangkan perang batin. Namun, ketika versi kedua yang berlaku, jangan harap semua nya bisa secepatnya kembali seperti biasa. Karena ada hati yang sedang berproses. Maka tunggulah. Bersabarlah. Jangan memaksa agar dengan seketika, semuanya kembali seperti semula.

Lantas, bagaimana dengan sang peminta maaf?

Dia pun sedang berada dalam perang batin. Kadang, tadinya dia tak menyadari ada sesuatu yang salah. Dia merasa baik-baik saja. Tapi ketika radarnya menangkap sinyal-sinyal perubahan, tersentaklah ia. Salah gua apa ya? pikirnya. Maka mulailah ia berspekulasi tentang kemungkinan perbuatannya yang mana yang bisa sampai mendatangkan masalah. Awalnya yang terpikir adalah ah, mungkin ini perasaan gua aja kali ya. Tapi kalo beneran, masa gitu aja marah, biasa aja kali. Lagian gua gak ada maksud buat kayak gitu kok. Jangan terlalu di ambil hati gitu lah.

Namun ketika ia membayangkan apa yang dirasakan oleh sang pemaaf, pikirannya seketika berubah. Terbitlah rasa bersalah. meski memang tak akan pernah benar-benar bisa merasakan hal serupa yang sedang teralami, namun gelisah terlanjur menguasai dirinya sendiri. Ingin rasanya berlari, bersegera meminta untuk di ampuni. Tapi lagi-lagi ego. Tunggu dulu. Malu kalau harus sejenak merendahkan diri di depan orang lain. Meskipun tahu dirinyalah yang salah dan patut melakukan itu. Gile, bisa jatuh harga diri gua! Begitulah kira-kira.

Kemudian terpikir, biarin aja dulu lah, ntar juga biasa lagi. Tapi hatinya tetap tak tenang. Tak nyaman dengan keadaan yang drastis berubah. Maka demi menentramkan hati, bergeraklah ia. Dan tersadar bahwa meminta maaf bukanlah perbuatan rendah.

Saking inginnya di maafkan, dia berusaha keras untuk menjelaskan sampai ke akar-akarnya. Mungkin dengan begitu, sebuah pemaafan akan cepat di dapat, pikirnya. Tapi tanpa disadari, dia akhirnya seperti bukan sedang meminta maaf atas kesalahan, tapi seperti hanya sedang meminta pemakluman. Ya, karena dia sedang memperjuangkan ketentraman hati nya sendiri, agar segera terbebas dari rasa bersalah. Dia akan merasa tentram ketika telah di maafkan, dan dia merasa maaf telah diberikan ketika semua kembali seperti semula. Seperti sebelumnya tak pernah terjadi apa-apa. Tapi itu mimpi, karena bekas akan selalu ada.

Ketika meminta maaf pun, terkadang kita teringat akan kejadian yang hampir serupa, namun kita mengalaminya dengan orang lain. Lantas, kita menceritakannya, untuk sekedar memohon pengertian dari orang yang sedang kita mintai maaf saat ini. Tapi sang pemaaf merasa, ini bukan saatnya. Yang sekarang sedang berusaha kita damaikan adalah perasaan lukaku akibat kamu. Bukan tentang kamu dengan nya, karena itu bukan urusanku. Akulah pusatnya sekarang. Jangan di campur adukkan.

Waktu ada dalam versi berbeda bagi kedua nya. Sang pemaaf membutuhkannya, sang peminta maaf merasa tersiksa oleh nya. Ketika sang pemaaf butuh waktu, peminta maaf tak ingin lama menunggu. Pada akhirnya, ini bukanlah perang antara pemaaf dan sang peminta maaf. Tapi merupakan proses berdamai dengan diri sendiri.

Namun saat Allah berada di antara kedua nya, terjadilah beda. Ketika sang pemaaf memikirkan bahwa Allah begitu sangat pemaaf, maka ia akan merasa malu dengan keadaannya sendiri. Seketika, semua yang terjadi terasa kecil, terasa tak ada apa-apanya. Ketika sang peminta maaf memikirkan bahwa Allah tak kan memberi maaf sampai orang yang tersakiti mengikhlaskannya, maka yang tadinya terasa sepele, menjadi sesuatu yang teramat besar dan penting untuknya.

Pada akhirnya, ini lebih jauh lagi dari sekedar berdamai dengan diri sendiri. Sang Pemaaf mendekat pada-Nya dengan cara memaafkan. Sang peminta maaf, mendekat pada-Nya dengan cara meminta maaf. Manis, keduanya sedang menuju Allah yang sama-sama mereka cintai.

Senin, Mei 30, 2011

Day #10 : Sometimes, harus memilih

Suatu hari, sahabatku yang sudah berkalang tanah itu, pernah berkata :
"Mi, emang alus sih nya kamu sok berada di tengah-tengah, netral kitu. Tapi tetep, nu ngarana hirup suatu saat urang kudu milih rek aya di posisi mana. Rek kiri, rek kanan. Teu bisa saterusna di tengah-tengah. Misalkan aing, kan geus memilih jalan kiri, hahahahaha!"

Terjemah:
"Mi, emang bagus sih kamu suka berada di tengah-tengah, netral begitu. Tapi tetap, yang namanya hidup suatu saat kita harus memilih mau berada di posisi mana. Mau kiri, mau kanan. Gak bisa selamanya di tengah-tengah. Misalnya gue, kan udah memilih jalan kiri, hahahahaha!"

Sepengamatan dia, aku memang selalu berada di posisi tengah-tengah. Aku berpenampilan seperti "akhwat" -katanya-, tapi aku tidak masuk ke organisasi aktivis dakwah manapun. Kesannya, aku tidak ke kanan-kanan an. Dan meski penampilanku seperti tadi itu, tapi -katanya lagi- aku tidak alergi atau anti dengan kegiatan atau pemikiran orang-orang yang mengaku kiri. Ke kiri-kiri an pun, aku tentu tidak. Jadi, aku tidak fanatik dengan salah satu, pun tidak resisten dengan salah satu.

Lantas ku pikir, apa salahnya? Karena dulu rasanya aku pernah membaca hadist yang menyuruh kita untuk tidak terlalu fanatik akan sesuatu. Tapi memang, pandangan fanatik bagi setiap orang berbeda-beda. Mungkin ketika seseorang di anggap fanatik oleh orang lain, tapi dirinya sendiri menganggap hal tersebut masih wajar-wajar saja.

Dan sahabatku itu bilang, kalau nanti ada konflik antara kiri dan kanan, apa aku akan tetap di tengah-tengah? Jadi menurut dia, suatu hari nanti aku memang harus menentukan sikap, mau memilih yang mana.

Ah, aku selalu pusing dengan semua dikotomi itu. Kenapa harus ada kanan-kiri, barat-timur, dan bla--bla..bla.. lainnya.

kemarin-kemarin, ketika ngobrol dengan tukang buku bekas yang di gegerkalong, dia pun melontarkan opini yang mirip. "Kamu mah orang nya petualang ya. Semua nya di masukin. jadi kamu mah mengambil yang baik-baik nya aja dari semua."

Mungkin dia mendasarkan pendapatnya itu dari buku-buku yang kadang ku beli atau ku pinjam dari kios nya. Aku istilahnya tidak pilih-pilih buku. Membaca buku tentang agama Islam yang bisa menguatkan iman, ataupun buku-buku sosial, filsafat,dll yang kira-kira bisa memperkaya cakrawala pemikiran ku, kenapa tidak?

Apa seseorang yang beriman atau yang kuat imannya tidak boleh membaca tentang filsafat atau hal-hal berbau sosialis? (mungkin takut nya jadi sesat gitu?), atau seorang filsuf maupun seorang sosialis tulen tidak boleh mejadi sosok yang beriman?

Lantas kupikir, apa salah nya aku mengambil pelajaran-pelajaran baik dari hal-hal yang ku pelajari

Minggu, Mei 29, 2011

Day #9 : Kacau

dkgsldhgkdfhlkfmhlfmhlkzdhfjhdg fldh nfgmhglhmjfgjhdlk
hlfdjklfmhldkfmhlkdjhisjhlksfhnldfkhnld;kjmkfg
ldkhdlfjyhdifhiuhiosfopfshjpdojhpodjfdopj
jkxnhjkdhlkfdjml;fgjm;fgmjdmj;lfjm;gljm
dfhkfjhlkfjhl;fjm;lfj;fkjf;jm,f;lj,y;'
lktjuyti;ty,ity';,ity;'lkopfgknjoifndxlsmhd;'jm'f;
ldfkghmlkdfhnlkfmj;flmj;fmjflgjmfl;gmf';mjf';kmf';
dlk
dkgsldhgkdfhlkfmhlfmhlkzdhfjhdg fldh nfgmhglhmjfgjhdlk
hlfdjklfmhldkfmhlkdjhisjhlksfhnldfkhnld;kjmkfg
ldkhdlfjyhdifhiuhiosfopfshjpdojhpodjfdopj
jkxnhjkdhlkfdjml;fgjm;fgmjdmj;lfjm;gljm
dfhkfjhlkfjhl;fjm;lfj;fkjf;jm,f;lj,y;'
lktjuyti;ty,ity';,ity;'lkopfgknjoifndxlsmhd;'jm'f;
ldfkghmlkdfhnlkfmj;flmj;fmjflgjmfl;gmf';mjf';kmf';
dlk

Day #8 : Sidang-Sidang Ricuh

Waaaaaa!!! Lupa postiiiinggg!!! Semalem tidur nya kebablasaaaaaannnnn!!!

Kemarin malem, sebenernya mau posting tulisan ini...

Beberapa hari ini, cukup banyak ku dengar berita tentang kongres PSSI yang gagal dan di lengkapi dengan kericuhan segala dari para peserta nya. Duh...
Jadi teringat, kalau sidang DPR juga pernah ricuh. Padahal semua peserta nya "orang terhormat" semua.
Teringat lagi akan kongres-kongres beberapa partai atau organisasi kepemudaan yang biasa nya tak jauh beda. Pasti saja ada bumbu-bumbu kericuhannya.