Selasa, Juli 12, 2011

Ada apa dengan An*ing?

Untuk mengetahui, bagaimana sebenarnya kondisi masyarakat sebuah bangsa, kita bisa melihat dari caranya berbahasa. (Mc Cliff dalam Lingual and Culture)



Gang di sebelah kamar kostan saya yang sekarang, sering dijadikan tempat berkumpul dan bermain anak-anak sekitar. Saking dekatnya, suara-suara dari gang itu dapat terdengar langsung dari kamar saya. Sekali waktu, sempat kaget juga ketika ada balita yang menangis karena di jahili oleh bocah-bocah kecil lainnya. Bukan tangis nya yang menjadi sebab kekagetan saya. Tapi kata-kata pengiring yang di ucapkan saat dia menangis. “Huaaaaa…an*ing, huaaaa…an*ing…huaaaa…an*ing!”

Ck..ck..ck.. anak sekecil itu…

Padahal usia balita adalah golden age. Masa-masa dimana kemampuan otak anak untuk menyerap informasi sangat tinggi. Apapun informasi yang diberikan akan berdampak bagi si anak di kemuadian hari.

Orang dewasa (laki-laki) yang ada di dekat balita itu bukannya menenangkan dan member pengertian kalau kata-kata yang di ucapkannya tidak baik , tapi malah ikut menjahili. Dan tertawa-tawa setiap kali sang balita melontarkan kata “an*ing”. Ealah, wis gendeng opo ya?

Usut-punya usut, balita ini sepertinya meniru anak-anak lain berusia SD yang kerap juga mengucapkan umpatan hewan berkaki empat itu. Lantas anak-anak SD ini meniru siapa ya?

Iseng-iseng, saya suka perhatikan anak-anak putih merah, putih biru dan putih abu kalau kebetulan sedang melewati sekolahan. Atau ketika sedang makan di warteg dekat –dekat situ. Serasa bukan sekolahan deh, tapi lebih berasa seperti tempat penitipan an*ing,heuheu..

Bagamana tidak, karena hampir semua percakapan anak-anak sekolahan tersebut bermuatan si an*ing itu. Seperti : “Rek kamana, j*ng?”, “maneh tong kitu atuh an*ing”, “an*ing, hebat pisan si Messi kamari nga golkeun deui!”, “An*ing! henpon maneh meni alus kitu!”, geus ngerjakeun PR acan,j*ng? “ atau pas terantuk batu bilangnya “an*iiiing!! Nyeri!”, dll.

Tadi di gang samping kostan saya itu itu, ada anak-anak yang sedang main badminton. Tapi sepertinya, mereka akan cepat kehilangan tenaga. Karena setiap memukul kok, mereka sambil teriak “an*ing”.

Dulu ketika belum punya modem dan masih ke warnet, saya pernah hilang kesabaran dan sampai meninggalkan warnet, padahal belum selesai tuh nyari artikel. Gara-garanya ada seorang pemuda yang sedang main game (perang-perangan), dan setiap kali melakukan tembakan atau tokoh yang dimainkannya kena, selalu bilang an*ing. Game perang-perangan pastinya banyak banget kan tembak-tembakannya. Coba bayangin, gimana kuping saya gak sakit, kalau kata an*ing terdengar terus seperti muntahan peluru. Rasanya ingin melemparkan hewannya yang beneran, ke muka pemuda itu. Sambil bilang, “NIH, YANG LO PANGGIL-PANGGIL DARI TADI, AKHIRNYA DATANG JUGA!”

Masih juga di warnet. Kali ini ada anak SD yang sedang main game. Polahnya sama seperti pemuda tadi. Dikit-dikit bilang an*ing. Dan polah saya juga sudah pasti sama, langsung menyingkir dari warnet. Bener-bener sakit kuping mendengarnya.

Sekali waktu di angkot ketika sedang penuh-penuhnya penumpang. Ada dua anak SMP yang sepertinya sedang terlibat pembicaraan seru. Dan dengan santainya, mereka berdua beradu “an*ing” di angkot. Maksudnya, mereka sama-sama menyematkan kata “itu” dalam setiap obrolan. Ketika dipelototin, eh malah santai dan makin asik aja. Udah biasa gitu kali ya?

Gak di Bandung, gak di Garut, setiap anak sekolahan dari mulai yang SMA sampai SD, sering sekali mengeluarkan umpatan “an*ing”. Bahkan di kalangan mahasiswa terpelajar pun, yang katanya agen MLM, eh agent of change maksudnya, sudah menjadi hal lumrah. Mau laki, mau perempuan, udah sama aja kondisinya sekarang. Jadi sebenarnya, para siswa meniru kakak-kakaknya yang sudah “maha” itu, atau memang mereka sudah sama-sama terbiasa sejak kecil, karena tidak ada yang mengingatkan?

Masih bisa disebut terpelajarkah para pelajar seperti itu?

Seingat saya, dulu umpatan “an*ing” itu biasanya keluar dari orang-orang di lapisan masyarakat yang (maaf) kurang terpelajar. Atau juga masih bahasanya para berandalan. Dan itupun di ucapkan ketika dalam kondisi marah.

Entahlah, apakah para pelajar sekarang sangat mengidolakan hewan yang satu itu, hingga selalu di sebut-sebut. Sepertinya kurang afdol gitu kalau pas bicara gak nyebut-nyebut si “dia”. Sudah here, there and everywhere deh. Mau marah, senang, kaget, sakit, nyapa, kagum, semuanya pake “an*ing”.

Bahkan kalau yang sudah sangat faseh dan saking mendarah dagingnya, bisa terjadi seperti ini :
A : “Maneh ulangan meunang (nilai) sabaraha?”
(kamu ulangan dapat nilai berapa?)

B : “An*ing! Alhamdulillah urang mah meunang peunteun dalapan!”
(An*ing! Alhamdulillah saya dapat nilai delapan!)

Kalau kata Reza Artamevia mah, saking udah menjadi “Satu yang Tak Bisa Lepas”, bahkan umpatan hewan bernajis itu, dengan sembrononya disandingkan dengan kalimat tahmid yang suci.

Ada pepatah mengatakan, language is an index of zivilisation. Penggunaan bahasa ke arah kata-kata kasar dan buruk, adalah indikator dari adanya perubahan sosial yang memburuk.

Jadi, apakah kondisi ini telah mencerminkan masyarakat kita yang cenderung menghewankan manusia?
Masyarakat kita yang cenderung diam saja, terbiasa dan malah menurut saja ketika di anggap seperti hewan? (buktinya, nyaut ketika dipanggil "an*ing")

Senin, Juli 11, 2011

His Trace

Gak sengaja (apa di sengaja ya?) menemukan jejak tulisan Sonny di blognya yang lain. Hanya ada empat postingan sih. Tapi itu tulisannya (tepatnya ocehan) beberapa bulan sebelum pergi. Pergi bukan untuk balik lagi. Baca ocehan-ocehannya, serasa dia masih ada. Kayak kita lagi ngobrol aja seperti biasa. Yah, lagian juga gak ada niatan untuk lupa sama makhluk ajaib yang satu itu.

Ngomong-ngomong soal ocehan, jadi teringat beberapa kejadian di kelas waktu kuliah. Kalau kebetulan lagi ngontrak mata kuliah yang sama, harus siap-siap kuping deh pas dia duduk di sebelah kita. Soalnya suka ngoceh terus tentang ucapan/pemikiran dosen yang gak sesuai sama pemikirannya. Kenapa gini? Kenapa gitu?, Kudu na mah gini mi (harusnya gini,mi), ceuk urang mah kieu mi (pendapatku begini,mi)dan bla..bla..bla.. Jadinya harus sedia kuping kanan buat kuliah dosen, kuping kiri buat "kuliah" nya dia.

Masalahnya, bukan cuman ngocehnya itu, tapi pas kita "dituntut" juga buat meladeninya berdebat. Biasanya dimulai dengan kata-kata pemanasan "tah, ceuk urang mah kitu. ceuk kamu kumaha?" (nah, menurut saya begitu. Bagaimana menurut kamu?).

Pernah waktu kuliahnya Pak J*ja di perpus, kami sampai di liatin terus oleh beliau. Ya iya lah, kita duduk di lumayan depan, eh dia ngoceh terus tanpa peduli. Saking sebelnya, saya sampai harus menggambarkan sesuatu, biar dia diam sejenak, heuheu..

Ini gambarnya :






Kadang pendapat-pendapatnya ada benernya juga sih. Cuman ya itu tadi, suka gak liat-liat tempat,heuheu..

Dulu, males banget kalau "ketiban sial" harus mendengar dan "menemaninya" berbicara saat kuliah seperti itu. Sekarang, rasanya rela deh buat "ketiban sial" lagi.


For everything in our friendship, i turn to you, Son.

(klo masih ada, pasti protes karena manggil nama doang, gak pake embel-embel "kang". Gak hormat sama yang lebih tua katanya,hehe..)

Kamis, Juni 30, 2011

Jamaaaah..., oooh jamaaaah...!


Sumber : kartunnyaiwaniwe.blogspot.com

Ketika masih SMP, menjelang Ramadhan biasanya ada kegiatan "kuramasan" di sekolah saya. Maksudnya bukan acara keramas bareng-bareng, tapi semacam tabligh akbar. Dimana pada hari itu, pihak sekolah mengundang seorang ustadz untuk menyampaikan ceramah kepada seluruh warga sekolah.

Orang-orang yang mendengarkan sang ustadz, tak jarang selalu terbahak-bahak (termasuk saya). Pasalnya, ustadz tersebut banyak sekali menyampaikan humor-humor yang membikin perut sakit. Tapi saking kebanyakan humor, yang keinget ya malah yang lucu-lucunya. Isi ceramahnya gak ketangkep. Abis acara, bubar aja seperti buih di lautan. Gak bawa apa-apa, selain bahan lawakan baru buat diceritakan ke orang lain.

Ketika tahun depannya ngundang ustadz itu lagi, alasannya semata-mata karena beliau lucu, bukan karena isi ceramahnya yang menggugah. Ya mungkin agar murid-murid yang masih usia belasan tetap betah mengikuti acara. Tapi tujuan utama seorang ustadz beceramah, bukan untuk menghibur kan?

Humor/lawakan bisa jadi jalan bagi para ustadz untuk menyampaikan ceramah. Ngejaga juga biar yang ngedengrin gak ngantuk. Namun rasanya kurang baik apabila yang terjadi malah sebaliknya. Ketika ceramah berubah menjadi ajang melawak. Gara-gara hal ini, saya sempat berburuk sangka terhadap seorang ustadz yang akhir-akhir ini makin di kenal, seiring dengan kemunculannya di salah satu televisi swasta. Siapa yang tak kenal dengan sapaan "jamaaaaaaah! ooooo jamaaaaah! Alhamduuu...lillaaaah"

Waktu itu saya sedang di Bogor, di rumah seorang kawan yang akan menikah. Masih ingat ketika pertama kali menyaksikan beliau di televisi pas subuh hari. Yang langsung terlintas dalam pikiran adalah eh buset (ralat: astagfirullah), ni ustadz lebay banget! jangan-jangan ada pelawak OVJ yang kabur ya? Soalnya performance beliau hampir mirip Sule ketika sedang beraksi.

Pengalaman saya waktu SMP serasa terulang kembali. Seketika, skeptis lah saya pada ustadz kocak tersebut. Biarpun pas muhasabahnya, kadang suka bikin nangis para artis (yang di undang ke acara ceramah televisi tersebut), namun buat saya malah terasa kering.

Akhirnya, terpikir untuk menulis tentang fenomena ustadz tersebut. Kemudian di mulai lah riset kecil-kecilan. Dari mulai menyaksikan kembali acara beliau di televisi, sampai mengunduh ceramah-ceramahnya dari youtube. Hasilnya, tak jauh beda. Meski memang ketika sedang menyampaikan ceramah di luar televisi, pesan-pesannya lebih dapat saya tangkap. Usut punya usut, ternyata karena kadar "ke-lebay-an" nya lebih rendah daripada ketika sedang ceramah di televisi.

Nah, semalam ternyata pas sekali. sehabis ceramahnya tayang, kemudian beliau menjadi bintang tamu di acaranya Tukul "Reynaldi" Arwana alias Bukan Empat Mata. Tak sangka, dari sini saya melihat sisi lain dari beliau.

Jawaban-jawaban yang beliau kemukakan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang Tukul lontarkan, mampu membuat saya berpikir ulang. Rupaya beliau tak selalu lebay. Malah saya rasa, ucapan-ucapan beliau di talk show tersebut lebih menyentuh ketimbang ketika sedang berceramah. Lebih mampu membuat kita (setidaknya saya) mengingat Allah Subhanawata'ala. Lalu dalam hati saya bilang, ustadz, kenapa gak kayak gini aja sih pas ceramah? Kocaknya tetap ada. Udah bawaan kali ya. Tapi saya rasa pas. Tak berlebihan.

Mohon maaf ya ustadz, saya telah berburuk sangka (ustadz nya suka baca blog gak ya?). Semoga saya dan lebih banyak orang lagi, bisa sering-sering mendengarkan ucapan-ucapan ustadz yang menggugah seperti di acara kemarin malam. Sehingga ustadz dapat membuat umat yang banyak ini tak seperti buih di lautan.

Jamaaaah..., oooh jamaaah...

Selasa, Juni 28, 2011

Cheeni Kum : Pesona Amitabh Bachan yang Tanpa Gula



Film-film romantis yang saya suka dan sanggup di tonton berkali-kali dengan kesan yang tetap sama seperti ketika pertama kali menonton nya , biasanya berasal dari Hollywood. Seperti The Terminal, Before Sunrise, When Harry Met Sally,dll. Namun kali ini, ada kejutan dari Bollywood. Sebuah film bergenre komedi romantis, dengan ramuan berbeda dari film Bollywood kebanyakan : Cheeni Kum. Tanpa gula, tanpa tarian, tanpa pamer dada dan pinggul, namun tetap manis. Lebih rasional dan mengedepankan dialog-dialog cerdas seperti dalam Before Sunrise. Ditambah lagi dengan latar cerita yang selalu saya suka, yaitu tentang koki. Voila!

Semua berawal dari gula. Ketika sebuah masakan bernama Hyderabadi Zafrani Pulao, kembali ke dapur bersama pelayan restoran Spice6 dalam keadaan masih utuh. Pelanggan yang memesan, menilainya terlalu manis. Padahal citarasa asli masakan India tersebut adalah tanpa gula. Ditambah lagi, pelanggan tersebut menyebut restoran nya sebagai restoran India palsu. Tentu ini adalah sebuah perlukaan ego bagi seorang Chef perfeksionis spesialis masakan India dan sekaligus pemilik restoran, Budhadev Gupta (Amithabh Bachan). Berpuluh-puluh tahun restorannya berdiri, yang selalu kembali ke dapur adalah piring kosong, bukan piring dengan makanan utuh. Restoran bukan sembarang restoran. Spice6 adalah restoran India terlaris di kota London.



Tanpa mengecek rasa makanan, Budha langsung pergi menemui pelanggan yang mengembalikan pesanannya, gadis India bernama Neena Verma (Tabu) dan sahabatnya Shalini (Kanwal Toor). Dengan pandangan tertuju pada Neena, sang Chef menyindir bahwa Zafrani Pulao yang biasa dia makan pasti di buat dengan asal. Kemudian menganjurkan pada Neena agar menelfon ibunya di India untuk mengajari bagaimana membuat Zafrani Pulao yang asli. Lewat sikap tenang namun kata-kata yang sungguh sepedas cabe bhut jolokia, Budha membuat keduanya menganga tanpa kesempatan untuk menjelaskan. Tentu saja duo sahabat itu tersinggung, dan langsung meninggalkan restoran dengan kesal.

Keesokan hari, sebuah Hyderabadi Zafrani Pulao kembali masuk ke dapur restoran. Budha heran, kemudian langsung mencicipinya. Dengan ala Pak Bondan, dia menilai cita rasanya dan mengatakan bahwa masakan tersebut paling lezat sedunia. Hanya lidah mati rasa yang menolak masakan restorannya itu. Namun tiba-tiba, sang pelayan mengatakan bahwa Zafrani Pulao tersebut tidak berasal dari dapur mereka, melainkan seseorang mengirimkannya khusus untuk sang Chef. Bisa ditebak, memang Neena lah yang mengirimnya langsung.

Ealah, usut punya usut, ternyata penyebab kekacuan ini adalah salah seorang koki bernama Babu. Seharusnya garam yang di masukan ke dalam masakan Zafrani Pulao, namun malah gula yang dia ambil. “Penerbangan ke India, besok jam 10 pagi”, bahasa pemecatan yang diterima Babu. Begitulah Budha, pahit.



Sekarang, yang harus di pikirkan adalah bagaimana cara meminta maaf pada Neena. Tentu bukan hal mudah bagi orang ber ego tinggi seperti Budha. Hujan kemudian mempertemukannya kembali dengan Neena. Perbincangan yang terjadi seharusnya menjadi jalan bagi Budha untuk meminta maaf. Namun, susahnya minta ampun. Tapi perbincangan tersebut, membuat mereka lebih akrab. Dan hujan memang membawa berkah. Payung hitam yang selalu dipinjamkannya pada Neena, seolah-olah telah menjadi cupid yang membuat mereka lagi-lagi bertemu.

Budha adalah seorang lajang berusia 64 tahun yang tinggal dengan seorang ibu yang sudah sepuh. Nenek-nenek penyuka acara smackdown dan sex and the city, yang selalu menyuruh anaknya pergi ke Gym. Tapi anak satu-satunya itu tak pernah mau. Budha sang pemilik restoran dan juga seorang vegetarian, tak pernah absen makan masakan rumah buatan ibunya. Meski masakan sang ibu kerap ia cela. Ya, itulah cara Budha menunjukkan kasih sayangnya.

Satu lagi perempuan dalam hidup Budha, Sexy namanya. Tetangga sebelah, sekaligus sahabatnya. Gadis cilik pengidap leukemia yang kerap keluar masuk rumah sakit. Sexy lah teman curhat yang sering memberikan saran-saran yang lebih dewasa daripada usianya.



Dan Neena, ternyata adalah seorang wanita lajang yang cerdas, anggun, berpembawaan tenang dan pikiran dewasa yang mampu mengimbangi Budha, meski usianya jauh lebih muda, yaitu 34 tahun. Dengan kecerdasan kata-katanya pula, Neena mampu membuat Budha kembali mempekerjakan Babu.

Saat seseorang memuji restoran, sang Chef yang akan menerimanya. Dan saat ada yang mencela restoran pun, sang Chef yang seharusnya menerima. “Jadi, kenapa Babu yang harus pulang? Seharusnya kau yang pulang.” Begitulah Neena men skak mat Budha. Cerdas bukan?

Budha ibarat pria sugar free, yang sikapnya jarang sekali manis dan kehidupan percintaannya pun jelas jauh dari manis. Namun kehadiran Neena perlahan mempermanis hidupnya. Kecerdasan dan keanggunan Neena, mampu memikat Budha. Sedangkan kematangan Budha dan sikap to the point nya yang tanpa gombal-gombal, telah memesona Neena. Usia yang terpaut jauh, tak lantas jadi masalah. Budha dapat mengimbangi kecerdasan Neena dan Neena dapat menghadapi “kejudesan” Budha. Kalau dalam Islam mah, istilah nya sekufu gitu,hehehe..



Sama-sama cerdas, rasa ketertarikan ditunjukkan dan dibalas dengan cara yang tak biasa. Seperti ketika bagaimana Budha mengajak Neena berkencan, dan bagaimana Neena menjawabnya. Bagaimana Budha mengungkapkan cinta tanpa sepatahpun kata cinta, dan bagaimana Neena menerima nya tanpa mengucapkan kata “ya”. Serta cara Budha melamar Neena yang akan membuat wanita pecinta keromantisan berpikir pria macam apa yang melamar wanita dengan cara seperti ini. Tapi akan lebih heran lagi dengan cara simple Neena menerima lamarannya.

Sama-sama dewasa, ketika terjadi pertengkaran pun, tak pernah mereka biarkan berlarut-larut. Menit itu mereka cekcok, menit itu pula mereka menyelesaikan masalah. Mature banget.



Amithabh dan Tabu benar-benar cocok memerankan karakter-karakter dalam film ini. Chemistrinya dapet. Bagaimana ya caranya untuk menggambarkan keromantisan film ini? Ibarat masakan, film ini seperti masakan vegetarian. Biarpun tanpa daging, namun tetap lezat. Dan lagi, Amithabh memang masih terlihat gagah dan menarik. Saya pun bisa condong menjawab "ya", kalau tiba-tiba dia datang melamar,heuheu..

Kembali lagi pada jalan cerita, ketika Budha dan Neena akan mengutarakan niat mereka menikah pada ibunya Budha, ada kabar dari India bahwa ayah Neena sakit. Ibu Neena telah lama meninggal sejak Neena masih kecil. Maka Neena harus segera kembali ke India untuk merawat ayahnya. Kabar tersebut bertepatan dengan kambuhnya penyakit Sexy yang membuatnya harus di larikan ke rumah sakit.



Tak lama, Budha pun menyusul Neena ke India untuk melakukan lamaran resmi pada ayahnya, setelah mendapat “restu” dari Sexy. Cara-cara yang manis coba dia lakukan untuk mengutarakan maksud dan agar membuat ayah Neena terkesan. Dari mulai berkunjung ke rumah, mengikuti saat jogging, sampai memasakkan makanan untuk sang calon mertua. Namun selalu saja gagal menyampaikannya. Ketika akhirnya maksud tersampaikan, bisa di tebak, ayah Neena tentu tak setuju. Apalagi usia sang ayah lebih muda 6 tahun dari Budha. Apa kata dunia?

Ayah Neena sampai mogok makan untuk mencegah mereka berdua menikah. Bagaimana cara Budha membuat sang calon papa mertua merelakan putrinya? Yang jelas, bukan lagi dengan cara bermanis-manis. Namun dengan cara yang “Budha banget”. Cara membujuk yang sama sekali tanpa “gula”.

Rabu, Juni 22, 2011

Duta atau Maskot

Beberapa tahun menyaksikan acara Miss Universe, yang biasanya ku ingat adalah bahwa pemenangnya pasti jadi bintang iklan minuman bervitamin C yang seger-seger itu. Atau kalaupun ada tugas resmi, biasanya jadi duta pemberantasan HIV-AIDS. Kegiatannya, jalan-jalan ke negara-negara tertentu untuk melihat para penderita HIV-AIDS, memperlihatkan rasa iba, di jeprat-jepret (di foto maksudnya) dengan tak pernah lupa memakai selendang keramatnya yang bertuliskan Miss Universe. Asa teu penting. Karena dengan gak pake selendang pun, udah pasti ketauan dia miss universe nya. Tau dari mana? Ya tau lah, karena pasti dari semua orang yang ada, pasti dia yang paling kinclong dan aduhai,heuheu..



Sepengetahuan saya, biarpun Nona Sejagat itu jadi duta HIV-AIDS, asa gak pernah ada ide-ide nya yang bergaung di dengar oleh masyarakat dunia. Atau himbauan-himbuannya (kalau ada itu juga) atau tindakan nyata yang berpengaruh terhadap tujuan dia menjadi duta. Selain itu, kesibukannya yang lain biasanya lebih banyak di pemotretan dan menghadiri kontes-kontes sejenis di tingkat regional. Dengan segala hormat, kalau bunda Theresa masih hidup, saya lebih memilih beliau untuk menjadi Miss Universe. Tidak kah ide-ide nya, himbauan-himbauannya, tindakan-tindakannya sudah mendunia? Biarpun tanpa mahkota.



Nah, kalau yang saya ingat dari pemilihan semacam Putri Indonesia, bahwa agenda pertama sang putri yaitu… tak lain tak bukan adalah untuk di kirim ke ajang pemilihan Miss Universe. Biasanya ada kontroversi tentang pakaian renang tuh,hehe.. Harusnya kontroversi itu tak terjadi sih, karena pasti kebanyakan orang sudah tahu bahwa kontes Miss Universe pada awal sejarahnya memang sebuah ajang kecantikan untuk mempromosikan pakaian renang. Udah tau begitu, kenapa masih niru-niru ajang seperti itu? Heuheu..

Dan selanjutnya, sang putri biasanya di kontrak jadi duta kosmetik merk tertentu.Btw, tugas utama putri Indonesia apa ya? lupa. Oh,iya mempromosikan pariwisata Indonesia ke mancanegara. Tapi berhubung merangkap jadi duta kosmetik, entah mana agenda yang lebih padat. Promosi pariwisata atau kosmetik? :D

Menurutku sih, yang pantes jadi duta pariwisata Indonesia itu Pak Bondan dan Trinity. Pasti dah tau lah dengan pak Bondan Winarno sang wisatawan kuliner. Coba aja liat, makanan apa yang ketika dia cicipi, gak bikin kita ngiler dan pengen icip-icip juga? Mau makanan tradisional kek, internasional kek, sama nasib nya. Bikin saliva menetes! Makanan khas Indonesia yang bermacam-macam, tentu saja bisa menjadi daya tarik buat para wisatawan kan? Mak nyosssss!



Nah, kalau Trinity tau gak? Di kalangan blogger ataupun para penikmat buku, dia sudah terkenal. Buku nya yang berjudul “The Naked Traveler” sudah sampai pada buku yang ketiga. Pekerjaan utama nya adalah traveling, pekerjaan sampingannya adalah karyawan sebuah perusahaan. Dia sudah menjelajahi banyak tempat wisata di Indonesia dan luar negeri dengan jalan menjadi seorang backpacker. Dia sudah tahu sebagian besar tempat-tempat di Indonesia yang paling asik buat berwisata. Yang bisa lebih seru dan eksotis dari Bali. Putri Indonesia mungkin baru traveling pas udah kepilih jadi juara pertama. Tapi Trinity, sudah dari jauh-jauh sebelum nya. Maka, siapa lagi yang lebih pantas dari dia?



Di Jawa Barat, ada ajang dengan tujuan serupa, yang tentunya lebih “keprovinsian”, yaitu untuk mempromosikan pariwisata di wilayah Jabar. Berupa ajang tahunan pemilihan Mojang Jajaka (MOKA) Jawa Barat. Tapi kayaknya dalam beberapa tahun kebelakang, acara ini kurang ngena sama tujuan. Kurang efektif. Ini bukan pendapat saya pribadi lho. Tapi pendapat Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf.



Beliau menilai bahwa hasil dari pemilihan MOKA ini belum di fungsikan secara maksimal. Yang juara tahun kemaren belum di fungsikan dengan baik, eh tahun ini udah ada lagi juara MOKA yang baru. Setahun ke depannya, ada lagi yang baru. Jadi aja stok MOKA (istilah bikinan Pak Dede Yusuf) numpuk. Dan kalau tidak salah, ajang ini sempat di tiadakan pada tahun 2009. Sepertinya setelah acara pemilihan yang begitu ketat dari segi brain, beauty dan behavior, kurang di persiapkan tugas-tugas selanjutnya (padahal ini bagian yang penting nya). Jadilah banyak MOKA yang dinilai nganggur. Padahal kan dari segi 3B tadi, mereka adalah jagoan-jagoan andalan Jawa Barat.

Bahkan seorang Jajaka Pinilih tahun 2008 sempat mengatakan “Selama ini, ibaratnya kami hanya jadi pajangan, bertugas kalau sedang ada tamu saja. Malah pada kegiatan yang berhubungan dengan promosi pariwisata tidak dilibatkan. Sebaiknya masa bakti moka tidak hanya satu tahun, jadi bisa diberdayakan oleh pemerintah”. Masyarakat menilai kegiatan pasanggiri itu hanya kegiatan hura-hura dan penghamburan anggaran, sementara alumni moka mengeluh karena selama ini hanya bertugas sebatas penerima tamu pada acara seremonial pemerintahan.

Lantas, apa kabarnya Pasanggiri Mojang Jajaka Garut 2011?



Tujuannya pasti pula tak jauh beda, hanya lebih spesifik kedaerahan. Mempromosikan seni budaya dan pariwisata Garut. Kriteria nya mencakup 4B (Brain, beauty, behavior, bravery), menguasai salah satu kesenian sunda dan mampu berbahasa sunda serta bahasa inggris.

Jadi teringat bertahun-tahun silam. Beberapa orang di sekolah saya ada yang mengikuti Pasanggiri Mojang Jajaka Garut. Waktu itu, kesan saya terhadap kegiatan ini adalah beauty lebih mendapatkan porsi. Beauty disini lebih dimaksudkan pada “beungeut” . Brain dan behavior belakangan. Asana mah baheula can aya kriteria bravery (rasanya dulu belum ada criteria bravery).

Brain mungkin di maksudkan lebih pada wawasan kali ya? Bukan spesifik wawasan kepariwisataan. Karena kan kalau yang itu nanti di berikan pas karantina. Tapi kalau tidak salah, dulu ada yang brain nya biasa aja, lolos untuk mengikuti karantina. Behavior artinya perilaku. Berarti kalakuan na nya nu di nilai.

Saya yakin, dalam rangka mempromosikan seni budaya dan pariwisata Garut, para mojang-jajaka terpilih, tidak akan hanya di jadikan sebagai pajangan atau dihadirkan ketika ada acara seremonial pemerintahan saja.

Saya ada kereteg pikir. Ini hanya pandangan saya sebagai orang awam dalam marketing. Jika tujuannya mempromosikan seni budaya dan pariwisata, kenapa tak langsung saja di pilih dari pemuda-pemudi yang memang awal nya concern di bidang itu. Mereka yang memang hobinya ngubek-ngubek dan sangat mengenal tempat-tempat wisata di Garut. Jadi ketika promosi, memang tidak omong doang, padahal belum pernah ke tempat yang di promosikan. Kalau mau, pilih dari kalangan para backpacker Garut sekalian (kalau ada,hehe..).

Coba, mana yang lebih menarik dari dua percakapan ini :

Percakapan I
Promotor : Garut memiliki tempat-tempat wisata yang sangat indah dan menarik, seperti candi cangkuang dan kawah papandayan.

Calon wisatawan: Wah, bagus. Apakah anda pernah ke sana?

Promotor : belum.

Calon Wisatawan: Lho, darimana anda tahu kalau tempat tersebut indah dan menarik?

Promotor : Ya, sepertinya..

Percakapan II
Promotor : Saya ingin bercerita tentang pengalaman saya bersama rekan-rekan ketika berarung jeram di sungai cikandang. Wah, sangat memacu adrenalin! Arus di sungai cikandang sangat deras dan rute nya panjang sekitar 28 kilometer. Perahu karet kami beberapa kali hampir terbalik.

Calon Wisatawan : Menarik sepertinya. Tapi saya belum pernah arung jeram. Dan jarak 28 kilometer terlalu panjang.

Promotor : Oh, tak masalah. Ada yang lebih pendek rutenya dari itu, yaitu sungai cimanuk. Dan jangan khawatir juga karena pengamanan nya terjamin. Buktinya saya masih hidup,hehe..

Calon Wisatawan : hahaha! Jadi tak sabar ingin segera mencoba nya juga.


Jika kita berada pada posisi calon wisatawan, pasti lebih tertarik dengan orang yang berbicara tentang pengalamannya ketika berwisata, ketimbang orang yang berbicara seperti brosur.

Untuk duta budaya, sebaiknya dipilih dari pemuda-pemudi yang sedari awal concern dengan budaya sunda/lokal dan menguasai beberapa kesenian nya. Bukan dari pemuda-pemudi yang baru belajar tentang kesenian sunda karena mau mengikuti pasanggiri mojang jajaka belaka.

Kalau misalkan tetap harus dengan prosedur Pasanggiri Mojang-Jajaka, maka usul saya, beauty ditempatkan setelah behavior, brain dan bravery.

Kenapa saya tempatkan behavior lebih dulu? Saya artikan behavior sebagai kecerdasan emosi. Kemampuan melakukan hubungan intrapersonal dengan orang lain. Orang yang wawasannya lebih sedikit namun mampu mengkomunikasikannya dengan bagus, simpatik dan ramah, akan lebih baik daripada yang wawasannya lebih banyak, namun tak mampu mengkomunikasikannya secara simpatik, bagus dan ramah.

Yang kedua, kenapa brain di dahulukan dari bravery? Karena percuma saja ketika punya keberanian, tapi tak punya gagasan atau wawasan yang dapat di sampaikan. Saya membayangkannya, para peserta tidak datang dengan brain kosong, untuk kemudian di isi dengan informasi-informasi ketika karantina. Alangkah lebih keren nya, ketika dari awal para peserta membawa ide-ide brilian yang dapat di tawarkan dalam rangka mempromosikan budaya lokal/sunda dan pariwisata Garut. Sehingga ketika seleksi, bukan hanya tentang wawasan, tapi juga seleksi ide. Ya, itu lamunan saya.

Nah, yang terakhir adalah beauty. Meski bengeut bisa jadi jalan awal ketertarikan, tapi kalau ternyata behavior nya gak bagus, brain nya jongkok, bravery nya ciut, maka tak ada artinya si beauty ini dalam rangka mempromosikan pariwisata dan budaya. Beauty lebih gampang di poles nya daripada brain. Cantik/ganteng itu relatif. Tapi bodoh itu mutlak. Lagian yang sedang di cari itu adalah duta, bukan maskot.

Setelah terpilih sang juaranya, maka pertama-tama mereka di tugaskan untuk traveling ke tempat-tempat wisata Garut yang akan di promosikan. Setelah itu, barulah berpromosi ke target-target wisatawan. Lagi-lagi, saya ngelamun,hehe..

Tapi saya punya pengharapan besar, kalau pasanggiri Mojang-Jajaka kota Garut 2011, benar-benar ajang pencarian duta pariwisata dan budaya, bukan ajang pencarian maskot pariwisata dan budaya. Kalau di lihat dari persyaratan peserta yang harus menguasai beberapa ini itu, kemungkinan besar pengharapan saya dapat terwujud.

Namun jika ternyata masih pada taraf pemilihan maskot, maka pemuda tidak harus berlomba-lomba untuk menjadi Moka saja, karena saat ini sudah banyak ajang pemilihan semacam itu. Lebih baik ada kegiatan lain yang lebih menitikberatkan pada prestasi dan juga kreativitas. Ini bukan kata-kata saya lho, tapi kata-kata dari Bapak Dede Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Barat.


NB: Penulis duka nuju seueur teuing ngalamun atanapi sirik teu pernah ngiringan pasanggiri moka,heuheu..