Selasa, Mei 24, 2011

Day #4 : Para Pecinta Itu

Aku sudah banyak melihat orang yang tidak mencintai pekerjaannya. Banyak mengeluh, tapi tetap mengerjakannya. Karena hari gini, susah dapat kerja. Dan mereka kelihatannya tidak bahagia.
Aku banyak melihat orang-orang yang tidak menyukai apa yang dikerjakannya. Tapi tetap saja melakukannya.

Senin, Mei 23, 2011

Day #3 : Kecolongan

Waktu kecil, atau sebutlah ketika masa sekolah ku di kota Garut, aku sering menyusuri jalan di pusat kota, yang lebih beken disebut pengkolan. Sering kutemukan beberapa pengemis yang melapak di beberapa titik. Biasanya kondisi mereka membuat kita sedikit maklum mengapa mereka terpaksa melakukan hal itu.

Seperti seorang bapak buta berpakaian hitam yang melapak di depan toserba Asia, seorang ibu kurus dengan anaknya yang juga kurus yang kadang sampai terlelap di tengah deru langkah orang-orang di depan toko elektronik “Djoe Loeng”, seorang laki-laki cebol berkumis tipis yang cacat kakinya dan melapak di depan toko Sumatra, juga seorang bapak buta yang menggendong anak di punggunya dan tak pernah berhenti merafal kata-kata. Ajaib, si bapak tersebut seperti kaset yang tak kenal lelah.

Awalnya tak kumengerti bapak itu merafal apa, karena bicaranya tanpa titik koma. Tapi setelah beberapa kali lewat, aku akhirnya bisa menangkap kata-kata itu. Yah, semacam jurus meminta-minta sambil mendoakan. Lupa lagi lengkapnya seperti apa, tapi kira-kira begini: kasadaya.. bla..bla..bla..mugia dipasihan kasalametan.. bla..bla..bla... (artinya : kesemua nya..bla..bla..bla.. semoga diberikan keselamatan..bla..bla..bla..). Dan pasangan bapak anak yang satu ini biasanya cenderung nomaden. Kadang kapling nya di depan toko baju, kadang di depan toko makanan. Yah, tergantung mood nya kali ya,hehe..

Begitulah sedikit nostalgia dengan pengemis-pengemis Garut jaman dulu (halah..). Bagaimana dengan sekarang ya? Waktu kecilnya mungkin mereka tak membayangkan akan jadi seperti ini. Karena, siapa juga yang kecilnya punya cita-cita jadi pengemis.

Selepas SMA, aku menginjakan kaki di kota Bandung, emak nya Jawa Barat. Menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi, ceritanya. Alias kuliah. Dan dari kota ini, mulai ku kenal sebuah istilah yang namanya “anak jalanan”. Ya, anak yang kebanyakan menghabisakan kesehariannya di jalanan, bahkan sampai tidur di jalanan. Jadi bisa disebut lah klo jalanan adalah rumah mereka.

Menurutku, ada 2 tipe anak jalanan di sini. Pertama, anak yang mengamen . Kisaran usia SD sampai SMA. Sepertinya sih mayoritas, karena dengan mudah bisa kita temui klo pas lagi naek angkot atau lagi makan di warung-warung tenda. Pemandangan pengamen cilik yang loncat naik atau turun dari angkot, sudah menjadi hal biasa.

Kedua, anak yang mengemis. Biasa nya masih pada bocah-bocah banget. Ngelap ingus aja kayaknya baru belajar. Kisaran usia balita atau SD kelas 1-2 (klo sekolah sih itu juga). Tapi jangan salah, ni bocah-bocah punya jurus meminta-minta yang militan. Klo belum di kasih, terus ngejar-ngejar. Mendesak-desakan tangan mungilnya ke badan kita. Pas gak di kasih juga, eh langsung nangis keras. Kesannya abis di apain gitu sama kita. Daripada malu di sangka ngapa-ngapain dan gak mau ambil pusing, biasanya tuh anak ada yg di kasih duit juga akhirnya. Kayaknya ini strategi yang udah di ajarin para emak (atau wanita-wanita yang membawanya) yang mengawasi mereka dari kejauhan.

Duh, Bandung..Bandung.. untung di Garut kagak ada yang beginian.. (begitu pikirku saat itu)

Ealah, ketika kembali lagi ke Garut, ku sadari ternyata pemandangannya sekarang tak jauh beda dengan Bandung. Di Garut, anak jalanan pabalatak, alias ada di mana-mana. Kayaknya, ada aja di tiap tikungan. Kebetulan waktu itu sedang iseng jalan-jalan di daerah kota. Baru jalan beberapa langkah, udah nemu anak jalanan. Beberapa langkah, nemu yang lain lagi sampai beberapa kali. Apalagi kalau menyempatkan diri berdiam sejenak di pelataran Masjid Agung. Pasti tak cuman sekali ada anak kecil yang menghampiri untuk minta uang. Sampai-sampai kupikir, kalau membandingkan luas wilayah perkotaan Bandung dengan jumlah anak jalanannya, jangan-jangan rasio kota Bandung dan Garut tak jauh beda. Padahal wilayah Garut tentu saja lebih kecil dari Bandung.

Aku tak tahu pasti kapan anak jalanan di Garut mulai marak. Yang ku tahu, tiba- tiba saja sudah banyak. Selama menetap di Bandung, aku kurang memperhatikan keadaan sekitar kota ku sendiri. Kalau pun pulang kampung, biasanya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan keluarga.

Kurasa, ada perbedaan yang cukup mencolok antara anak jalanan di Bandung dengan di Garut. Kalau di Bandung, ku lihat lebih banyak yang tipe pengamen nya. Masih ada lah usaha nya. Tapi di Garut, kebanyakan tipe pengemis nya, dengan militansi dan kemampuan maksa-maksa nya yang gak jauh beda dengan bocah-bocah di Bandung. Dan di sini, jarang kulihat yang ngamen nya.

Orang tua mereka pada kemana ya? Katanya sih, sedang mengawasi juga dari jauh. Dulu, ada orang tua yang terpaksa mengemis biar anak nya bisa makan. Sekarang, anak-anak yang terpaksa ngemis (di suruh, atau bahkan di organisir ya?) kali ya, biar orang tuanya bisa makan. Dulu, mengemis adalah sebuah keterpaksaan karena keadaan. Sekarang, mengemis sepertinya sudah jadi suatu profesi pilihan.

Baru kusadari, kalau kita kecolongan. Dengan kondisi anak-anak Garut yang banyak seperti itu, kira-kira kota Garut beberapa tahun ke depan akan seperti apa ya? Kecil-kecil udah terbiasa ngemis, kemungkinan pas gede nya juga gak bakalan jauh. Lha, ntar banyak orang dewasa yang pengemis dong. Trus ntar klo punya anak gimana? Apa mau di ajarin ngemis juga? Jangan-jangan orang tua dari anak-anak yang sekarang suka ngemis itu, dulu nya adalah anak seorang pengemis juga. Wah, jangan sampai mengemis adalah sebuah faktor keturunan.

Dan jangan lupa, anak-anak jalanan itu juga kecolongan sebenarnya. Karena hak nya yang seharusnya cukup bermain dan belajar, terampas/ di rampas oleh orang-orang dewasa. Mereka tak cukup punya daya. Orang-orang dewasa lah yang mengkondisikan mereka menjadi seperti itu.

Yang jelas, ada yang harus kita lakukan. Tidak cukup dengan peduli terhadap mereka hanya setahun sekali pas bulan Ramadhan. Judulnya biasanya, buka puasa bareng anak jalanan. Atau, bakti sosial untuk anak-anak jalanan. Dan dengan berfoto bersama, tampaklah kita seperti seorang atau kelompok dermawan yang betul-betul peduli akan nasib mereka. Seremonial seperti itu kah yang mereka butuhkan? Itu tidak mencabut akar masalah. ("Trus urang kudu kumaha atuh?" ceuk nu maca teh, hehe..)

Mungkin anak jalanan adalah bukan sebuah sebab. Tapi sebuah akibat. Akibat dari permasalahan-permasalahan orang dewasa yang terbengkalai. Jadi buat para orang dewasa, cepat selsaikanlah masalah mu. Anak-anak tak bisa di biarkan terlalu lama menunggu!

Baru teringat, dulu semasa sekolah, ada rumah singgah buat Anak Jalanan di pinggir halte, sebrang toserba Jogya. Tapi sepertinya sekarang sudah tidak ada lagi. Kemana ya? Dan itu pun milik swasta bukan pemerintah. Lantas, pemerintah Garut lagi kemana ya?. Kalau mengikut ke gaya lantang mahasiswa, selama ini anak jalanan yang notabene terlantar, belum di pelihara oleh Negara. Maka, gagal lah pemerintah dalam melaksanakan Undang-Undang Dasar 1945!

Namun tiba-tiba ada satu pertanyaan yang membikin jangar. Selama ini saya kemana aja ya?

Minggu, Mei 22, 2011

Day #2 : Kakek di Balik Jendela

Hari ini, di bus menuju Garut, aku duduk di sudut "Winter Sonata". Kusebut begitu karena ceritanya, di sudut inilah mulai muncul semacam percikan di antara kedua tokoh serial tersebut. Sudut itu adalah tempat duduk paling belakang sebelah kanan, sejajar dengan supir. Beginilah gambarannya..



Sepanjang perjalanan ke Garut, biasanya aku tertidur atau menyengaja tidur. Bangun hanya ketika sudah sampai terminal. Keseringannya pulang hari Sabtu sih. Dimana banyak orang yang berpikiran sama untuk juga pulang di hari itu,hehe..

Tentu konsekuensinya adalah macet. Dan apa yang bisa kunikmati dari kemacetan? Gak ada. Jadi, mending tidur. Minimal gak banyak ngeluh selama dalam bus. Kadang juga baca buku sih. Tapi angin AC sepoi-sepoi suka merayu mata untuk terpejam. :-D

Namun hari ini agak berbeda. Mungkin karen hari minggu juga. Jadi yang macet nya arus balik, bukan yang dari arah Bandung ke Garut. Semalemnya tidurku juga lumayan cukup. Alhasil, aku "melek" all the way. Lantas, apa yang harus kulakukan di tengah-tengah mata yang terbuka?

Iseng, ku buatlah sketsa tentang apa yang ku lihat di depan mata. Lumayan, ada dua lembar oret-oretku. Yang satu tentang penumpang bus yang berdiri, kedua tentang pohon rindang yang kulihat saat bus nge-tem sejenak.

Tak lama, mulai bosan deh bermain sketsa. Ngapain lagi ya? pikirku..

Aha! Di ransel ku ternyata ada kamera digital pinjaman dari seorang teman. Mulai lah aku bermain menangkap gambar-gambar yang ku lihat di sepanjang perjalanan. Dari mulai tukang tahu, pengamen, penumpang yang tidur, sampai pemandangan.

Jeprat! Jepret! Jeprat! Jepret!

Di tengah-tengah "pemotretan", baru kusadari bahwa seorang kakek yang duduk tepat di depanku, pandangannya selalu terarah ke luar jendela. Dalam hati aku bertanya, "Ngeliatin apaan sih, kek?". Malah jadi teringat sama cerita Toto Chan : Gadis Cilik di Jendela. Anak kecil yang di sekolahnya selalu ngeliat ke luar jendela.

Lantas, sang Kakek tiba-tiba menjadi objek paling menarik dari seisi bus. Penasaran. Ku tangkapi setiap pandangannya keluar jendela. Waktu ngangkat telfon pun, nengoknya tetap aja ke jendela.




















Pikirku, hmmm.., mungkin sang kakek sedang mengalami hal yang sama sepertiku. Terbiasa tidur dalam perjalanan, dan tiba-tiba hari ini matanya melek. Tak tahu matanya harus di apakan, jadilah matanya meraba-raba ke luar jendela.

Berapa lama kemudian, sang kakek hendak turun di tengah perjalanan. Baru kupikir, oh mungkin beliau dari tadi ngeliat ke luar karena takut kelewat tempat tujuannya. Mungkin hanya ingat samar-samar tentang patokan di mana harus turun. Mungkin juga sambil mikir "kelewat gak ya? kelewat gak ya?". Tak tahu lah. Tak sempat nanya juga.

Untuk yang terakhir, ku tekan beberapa kali tombol kamera yang terarah pada punggung kakek.





Maka, berpisahlah kami. Dua orang yang tak saling kenal.

Sabtu, Mei 21, 2011

Day #1 : Merayakan Kembali

Bukan kebetulan sepertinya. Ketika kemarin aku menulis larik-larik berjudul "Menolak Rindu", dan hari ini aku berpapasan begitu saja dengan #30harimenulis. Lalu, aku menemukan cara untuk melawan lupa. Sepertinya harus kuceritakan dulu tentang seseorang.

Sonny namanya. Seorang sahabat. Bukan hanya bagiku. Pun bagi kebanyakan orang yang mengenalnya. Salah satu kawanku pernah menjuduli kami "soulmate". Padahal judul yang lebih klop adalah "tukang ojek dan langganannya", hehe... Dia sangat suka menulis. Menulis adalah rumah pohonnya. Dari rumah pohon itu, terbit sebuah buku berjudul CBSA-Catatan Bodoh Siswa Aktif. Buku pertama dan terakhir. Karena sebelum buku kedua terbit, dia keburu berkalang tanah.

Tapi kira-kira jauh sebelum itu, dia mengajaku untuk merasakan asik nya punya rumah pohon. Dia mengajaku menulis. Satu hari, satu tulisan. Dengan tema sama yang di tentukan secara bergiliran. Deadline nya adalah jam 12 malam. Seperti Cinderella. Lewati deadline, siap-siap saja kena kutukan seperti dalam Harry Potter. Dia akan mengeluarkan mantra nya untuk merubahku jadi kodok. Untunglah, mantra nya tak pernah manjur. :p

Karena suatu hal, keasyikan itu hanya bertahan sementara. Tidak ada lagi Cinderella. Habis sudah. Dia masih memelihara rumah pohonnya. Sedang aku tidak. Rumah pohonku hilang begitu saja.

Sampai suatu waktu, aku rindu dengan asiknya rumah pohon. Tapi tak ada lagi yang bisa menemaniku jadi Cinderella.

Mungkin selama 30 hari ini aku akan membingkai setiap memory tentang nya sebelum di makan lupa, ataupun bisa jadi menulis tentang hal lain. Namun yang jelas, proyek #30harimenulis ini adalah caraku untuk tetap mengingatnya nya. Merayakan kembali keasyikan kami setiap hari.

Jumat, Mei 20, 2011

Menolak Rindu


Hanya aku yang boleh rindu?
Tidak bisa
Karena hangatnya, selalu seperti mentari yang berbinar ke segala


Hanya kamu yang bisa rindu?
Bagaimana bisa
Ketika jaring-jaring nya sudah terpintal denganku, kamu, mereka


Aku selalu menolak untuk rindu
Karena rindu hanya untuk yang berjarak, yang tak dekat
Tapi rindu malah berlari pada ku
Memaksa untuk menghitung tentang jauh


Bukannya aku ingin lupa
Bahkan kupunguti jejak yang berserak
Biar tak pudar bersama hujan rintik-rintik


Ku bingkai, agar aku ingat
Agar aku tak perlu rindu.