Jumat, Juni 06, 2008

The Terminal

Ini dia film favorite ku. Salah seorang temenku pernah bilang klo aku suka jadi gila klo dah ngomongin film ini. Gimana ya, udah suka sih sama aktingnya Om Tom Hanks, he...he...
Lagian filmnya juga emang patut di appreciate. Klo kata iklan rokok mah, ni film punya taste! Klo kata bahasa tubuhnya si Abi, film ini bisa bikin dia degh,degh! (Sambil mengepalkan tangan kanan dan memukulkannya ke dada kiri dua kali). Ini movie-thrillernya, take a look!



5 cm and Traveler's Tale


These two tittle are my favorite books in their genre. I swear!

Gimana ya cara ngungkapinnya? Jadi spechless gw...
Hmm..., judul yang pertama inspirational banget buat gw pribadi. Soalnya menyangkut hal-hal yang selama ini selalu sulit buat dibangun. Sifat taught, leadership, good time management dan percaya sama tujuan yang lo mau. Yang bikin suka adalah (karena dlm bentuk novel), sifat-sifat yang tadi itu, disampein dengan cara yang sederhana tapi ngena. Lewat sikap tokoh-tokohnya. Buku ini seperti "kakak" buat gw. Yang ngenasehatin sambil ngelus kepala, tanpa terkesan menggurui. Aaah, pokoknya gw suka!

Dan kata-kata yang paling gak bisa gw lupa (gak persis semuanya sih, tapi intinya gini) adalah "Letakan tujuanmu 5 cm di depan kepalamu, agar kemanapun kamu pergi, kamu selalu melihatnya". Trus satu lagi yang bikin gw semangat lagi adalah kata-kata dari salah satu tokohnya, gini dia bilang "Gw bukannya gak mau menyerah, tapi sayangnya gw gak bisa menyerah". Dasss...!!! Keren banget kan!

Oh,ya gara-gara buku ini juga, gw jadi bermimpi klo someday bisa ngedaki ke puncak gunung itu. Apalagi klo dalam waktu yang sempurna yaitu nyampe pas tanggal 17 Agustus. Duuuh..., pengen...


Then, buku yang satunya lagi bener-bener renyah dan manis. Apalagi salah satu tokohnya yaitu Farah, punya banyak kesamaan sifat, hobby dan nasib sama gw. Salah satunya adalah kita selalu menginginkan orang seperti Francis yang ... (cari tau aja di bukunya, he..he..), tapi ternyata yang kita butuhkan adalah orang seperti Jusuf (Ucup) yang tanpa kita sadari selalu ada di samping kita, dan tentu saja dengan sifat yang gokil, menyebalkan juga hidupnya itu susah ditebak. Orang yang gak bakalan membosankan, he...he...

Guess what? Lagi-lagi buku ini bikin gw menginginkan sesuatu. Aku pengen keliling dunia! Minimal keliling Eropa lah! Jadi backpacker gitu. Ok, gw harus nabung dari sekarang. Eropa tunggu aku!

Buat gw yang jarang menikmati hidup, ini adalah impian yang gak boleh dilewatkan. Gw gak ingin menyia-nyiakan kesempatan hidup dan segalanya di dunia ini yang udah diciptain Tuhan. Hidup ini cuman bentar, makanya harus gw manfaatin sebaik-baiknya agar hidup gw gak sia-sia. Dan salah satu cara biar gak sia-sia adalah menjelajahi dunia yang belum pernah gw liat. Dengan kesempatan hidup di dunia yang relatif singkat, akan sangat disayangkan klo gw gak bisa menikmati dunia seluas ini yang udah Tuhan ciptakan buat gw (Ok, buat kita semua). He...he...

Kamis, Juni 05, 2008

Nonton di Twenti Wan (21)

Ternyata nonton film di bioskop itu asik juga ya...

Maklumlah, sepertinya selama ini kurang menikmati dunia, he...he...

Ni foto-foto waktu nunggu mo masuk studio.


Ini nih tiketnya! Yang nomat aja ya, biar murah, he...he...

Teh Tri, Shinta, Aku, Ririn (Woi, jangan terlalu monyong dong!,he...he...)

E..e...e..., ternyata aku genit juga ya!

Waktu itu kita mo nonton "PS : I Love You". Aku yang ngerekomendasiin, soalnya bukunya bagus. Eh, pas nonton ternyata jadi agak kecewa. Karena bagian-bagian seru yang ada di buku, gak di visualisasiin di film. Trus lagi ada cerita yang melenceng. Kecewa dikit sih... Tapi, ya sudahlah. Lain kali nonton lagi film yang lebih keren.







SAKIT HATI

Selalu aja keajadian berulang. Dan baru disadari setelahnya. Jadi bikin rasa sakit dan penyesalan yang lebih.

Setiap kali pulang ke rumah ibuku, terkadang kita belanja untuk keperluan sehari-hariku di Bandung. Entah itu toileters, krim muka dan kawan-kawannya, ataupun makanan. Menghabiskan uang yang rada gede. Tapi ibuku yang bayar.

Ketika aku masuk ke supermarket, tak membawa pikiran apa-apa selain ingin membeli hal-hal yang kubutuhkan dan kuinginkan. Dengan enaknya, dengan riangnya, aku memasukan barang satu persatu ke dalam keranjang. Bayar di kasir. Selesai.

Tapi apa yang kualami setelahnya tidak semenyenangkan sebelumnya. Saat keluar dari supermarket dengan kedua tangan penuh tas belanjaan, aku sakit hati. Sejak langkah pertama keluar dari sana, aku melihat hal-hal yang tak kuperhatikan sebelumnya. Ibu-ibu pengemis dengan uang recehan di gelasnya, para pedagang asongan yang gak laku-laku, tukang becak yang berharap semakin banyak yang menggunakan jasanya, pedagang kaki lima nunggu pembeli, tukang parkir, dan anak-anak kecil yang menyodorkan tangan minta uang. Aku Sakit Hati.

Berjalan diantara orang-orang itu, aku malu. Dengan belanjaan seharga uang makan yang mungkin bisa mereka gunakan selama sebulan. Dan, setiap langkah kali aku lewatkan dengan rasa sakit hati yang semakin melebih.

Roti, biskuit, buah-buahan dan cokelat, semua buat mulutku sendiri. Tapi orang-orang itu sedang berkeras untuk memenuhi mulut keluarganya. Tak bisakah aku membeli yang benar-benar mendesak dan paling kubutuhkan saja? Ketika di dalam supermarket sana, semua yang kulihat serasa kubutuhkan. Dan sialnya, saat berbelanja tak kuingat sedikitpun orang-orang yang di luar sana.

Aku bersyukur bahwa masih bisa dicukupi kebutuhannya. Tapi rasa ini selalu secepat kilat dikalahkan oleh rasa sakit hati dan penyesalan yang melebih.

Tapi aku tak ubahnya seperti keledai. Tengoklah, beberapa pekan kemudian aku akan melangkah ke supermarket yang sama. Dan lagi-lagi merasakan sakit hati yang semakin melebih.

Dimana empatiku? Rasanya jadi lebih sakit hati, menyadari kalau aku selalu lupa untuk berempati.

Rabu, Juni 04, 2008

Dari Ibu, Untukku

Ibuku seorang pekerja, bukan ibu rumah tangga biasa yang pengabdiannya terpusat di rumah. Seringnya kecewa, karena gak bisa kayak anak-anak lain yang tiap pulang sekolah selalu ada ibunya di rumah. Ngejar-ngejar biar makan siang, ataupun sedikit cerewet menyuruh mandi sore. Mana bisa, ibuku selalu pulang malam dari kantor.

Terkadang aku bisa paham kenapa ibu harus kayak gitu, dan terkadang juga aku gak bisa terima. Pokoknya aku pingin ibu setiap waktu. Padahal kecuali waktu, dengan sebaik-baiknya ibu selalu berusaha memberikan segala yang terbaik buatku.

Dari banyak hal yang ibu beri, ada tiga hal yang sangat berpengaruh padaku hingga hari ini. Pertama, aku masih ingat sewaktu kecil sebelum tidur, ibu selalu ngajarin baca surat Al-Ikhlas. Itu momen yang sangat berharga buatku. Disanalah ibu mengenalkan Tuhan padaku.

Kedua, setiap hari Kamis ibu selalu membawa hal yang selalu aku tunggu-tunggu. Majalah Bobo. Betapa cinta matinya aku saat itu. Dengan majalah ini, ibu menanamkan cinta baca padaku. Membukakan pintu dunia lebar-lebar.

Ketiga, kepercayaan. Hal besar yang diberikan ibu. Setiap hal yang kulakukan, ibu selalu memberikan kepercayaan selama aku bertanggung jawab.


Ibu memang tidak memberikan waktu sebanyak yang dilakukan oleh ibu-ibu yang lain. Tapi, itulah ibuku. Dan aku bangga karenanya.